Qur’an Syi’ah Beda?

By lingkarluar
12 Qur'an Natiq After The Prophet

12 Qur'an Natiq After The Prophet

Heran, ternyata di hari globalisasi ini masih diperdebatkan. Padahal Negeri Iran telah terbuka, Negeri Irak juga, Lebanon juga. Ini khan bukan kajian konseptual tetapi empirikal. Maka yang paling sahih bagi yang meragukannya adalah datang sebagai mata-mata tanpa diketahui identitas kesunniannya ke negeri-negeri Syi’ah tersebut. Daripada melontarkan fitnah dalam ketidakmengertian konsep Taqiyyah. Atau curi saja kitab yang tersimpan di rumah-rumah atau perpustakaan-perpustakaan mereka sehingga Syi’ah bersih dari tuduhan Taqiyyah tanpa ilmu.

Niscaya sama saja isinya, mungkin hanya kualitas cetak, kertas dan cover yang lebih baik. Dan niscaya tersimpan di tempat yang baik. Lha, wong mereka mewajibkan berwudhu’ untuk menyentuhnya. Sekali lagi, ini seharusnya dibuktikan secara empirikal bukan konseptual.

Dan inilah pendapatku secara konseptual: Hamdillah, sejak dikodifikasi oleh Tim yang dibentuk oleh Khalifah Ustman bin Affan yang diketuai Zaid bin Tsabit. Walaupun menurut sejumlah riwayat baik di Sunni maupun di Syi’ah ada ayat yang dimakan kambing, ada ayat yang dibuang, ada ayat yang diedit :-P ditetapkan sebuah dekrit oleh Khalifah Ke-4 dari barisan Khalifah Rasyidin: “mulai saat ini jangan ada lagi yang mengubah-ngubah mushaf Qur’an…!”, ketika tim itu meminta Mushaf yang dahulu -zaman krisis Saqifah- ditunjukkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib kw. Imam menjawab: “CUKUPLAH yang ada pada sisi kalian”. CUKUPLAH sekali lagi CUKUPLAH…! Lha wong, yang ada di sisi kita saat inipun tidak bakalan sanggup kita menjadi manusia Qur’ani sepenuhnya apalagi jika ditunjukkan kitab yang tersimpan di Lauh Mahfudz [Ayat Qur'an ini], yang tidak mampu memahaminya kecuali “Hamba-Ku yang disucikan” [Ayat Qur'an juga ini]. Makin mustahil lagi.

Dan hamdillah, Qur’an sebagai sebuah kitab / mushaf masih terjaga tetap seperti saat selesai dikodifikasi Tim Bentukan Khalifah ke-3 sampai hari ini, di seluruh penjuru dunia sampai ke pelosok-pelosoknya. So, Jangan ada lagi pertanyaan bodoh-bodohan seperti di judul artikel ini. Memalukan! Nampak jelas, sebagai manusia yang tidak punya teman worldwide. Atau tidak punya duit untuk bertualang ke negeri lain. Atau katrok!

Yang nampak jelas di mataku: Mushaf itu dijaga oleh Khalifah ke-4, dan diteruskan oleh khalifah dan penguasa-penguasa sesudahnya walaupun penguasa zalim sekalipun. Walaupun Diktaktor! Walaupun Imperialis! Walaupun ……. Karena yang dijaga Allah bukan kitab mushaf itu walaupun sekali lagi HAMDILLAH kebetulan tidak mengalami perubahan dari sejak pertama dikodifikasi. Tetapi yang dijaga adalah Dzalikal Kitab, yang dijaga adalah yang di lauh mahfudz, yang dijaga adalah Qur’an Natiq, yang dijaga adalah Qur’an Maknawi bukan Dhahiri. Walalupun sekali lagi kebetulan tidak ada perubahan sejak dikodifikasi.

Tetapi bagaimana membuktikan bahwa mushaf kodifikasi itu adalah sebagaimana diterima Muhammad bin Abdullah SAW? Benarkah Rasul telah menyampaikan semuanya KEPADA SEMUANYA? Aku saja tidak akan menyampaikan tulisan ini pada ponakanku yang lugu dan manut-manut saja. Hanya akan membuatnya menjadi ruwet. Cukuplah agamanya dengan kemampuannya. Malah menjauhkannya dari agama jika kusampaikan hal yang ruwet2 begini. Apalagi Qur’an yang jika Allah sampaikan pada bukit pun akan hancur berantakan. Sebuah kalimat yang berat. Sebagaimana wahyu Cakraningrat yang diterima Raden Abimanyu? hanya raden Abimanyu yang mengetahui dengan sehakikatnya. Wahyu adalah sebuah ilmu-kehadiran, visioner dan hadir bukan kognitif spekulatif. Bahkan Sang Dalang pun hanya menceritakan bahwa Abimanyu menerima wahyu tetapi tidak mengetahui apa wahyunya itu. Bahkan harus baunyapun tiada tahu. He’s just story teller. Sebagaimana sahabat-sahabat pencatat wahyu mereka hanyalah story teller yang tidak mampu menceritakan apa yang tidak mereka dengar. Yang tidak mereka tahu.

Dan patut diduga, Tim Ustman telah menyusun urutan Mushaf berdasarkan panjang pendek ayat dalam surat. Perhatikan deh! hanya saja terselip beberapa yang tidak sesuai dengan urutan panjang pendeknya. HARAP MAFHUM dan MAKHLUM, zaman itu belum COMPUTERIZED gitu lo…!

3 Tanggapan ke “Qur’an Syi’ah Beda?”

  1. Ajaran Berkata:

    Apa mungkin bersatu? Gila aja

    LL: “maksudnya?”

  2. em_rif Berkata:

    KEBENARAN TIDAK AKAN PERNAH BERCAMPUR DENGAN KEBATILAN, SAMPAI AKHIRNYA KEBENARAN AKAN MEMANCARKAN CAHAYANYA KEPADA KEGELAPAN KARENA GELAP MEMERLUKAN PENCAHAYAAN.

  3. surat Berkata:

    yang menulis artikel diatas itu adalah : pertama, dia itu sedang stress. atau, kedua, memang tidak mengerti tentang ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan