Tahun2 Orde Baru. Diinstruksikan orangtua yang keduanya PNS untuk mencoblos GOLKAR. Masak sih bisa ketahuan kalau mencoblos yang lain. Sebenarnya males tetapi berhubung ibu meminta terus-menerus untuk mencoblos mengingat bokap adalah Ketua TPS gak enak kalau ada keluarga yang tak datang mencoblos. Akhirnya pilih PPP ae lah. Bukan karena PPP islami atau apapun. Tetapi karena I HATE GOLKAR waktu itu. Mosok bokap nyokap diintruksikan untuk memerintahkan keluarganya nyoblos Golkar. Yang bener aje dong…. Kalau ketahuan gak coblos Golkar bisa berabe.
Tahun 1999, KTP-ku masih Jawa tinggal di Bojong Gede, tetapi surveyor dari KPU mendata yang akhirnya aku mendapatkan surat pemilih. Mengingat saat itu masihlah sebagai Ketua Umum PMII Cabang Depok (underbow NU) dan banyaknya teman yang menjadi caleg dari PKB maka tanpa ba bi bu coblos PKB deh. Walaupun akhirnya aku tahu pasti banyak yang gak beres setelah menjadi legislatif. Minimal kekayaannya pada meningkat akseleratif melebihi gaji dan pengeluaran yang seharusnya dari jabatan legislatif. Di Jawa juga mendapat undangan memilih.
Tahun 2004, KTP-ku tercatat di Kemang, Jakarta Selatan. Tinggal di Depok tetapi tetap saja mendapatkan undangan memilih. Mungkin pendata cukup bicara dengan “Sang Penjaga Kost” ttg data2 penghuninya. Akhirnya golput di Legislatif tetapi pilih SBY di pilpres bukan karena dia yang terbaik tetapi hanya karena tidak sreg dengan calon lainnya.
Tahun 2009, KTP Kemang masih berlaku. Tinggal di Depok dan Bandung. Dan tak ada undangan memilih dari manapun. Dan memang dari dulu males ngurusin. So, diriku tidak terdata sedikitpun. Tidak juga dianggap sebagai Golput wong terdata juga kagak. Ternyata memang kacau balau pemilu kali ini. Panda Nababan dapil Sumatera kok bisa menang di Banyumas. hehehe….
Gak tahu gimana pilpres nanti deh. Tetapi melihat talkshow2 di TV jadi sebel euy kagak tercatat di manapun. Cucian deh gue… Kasihan deh gue…
BTW, dalam kamus pemiluku yang ada hanya LUBE tanpa R. Jurdil bukan urusanku secara langsung.