Pertama membaca buku Maz Pram: “Anak Semua Bangsa”, bingung euy. Mengapa tiba-tiba Annelies menjadi pesakitan. Mengapa Monkey [Minke} ditindas, mengapa tiba-tiba Darsam ngamuk. Pertanyaan yang tidak terjawab. Karena waktu itu hanya ada fotokopian, di toko buku belum tersedia sebijipun buku Pramudya. Namun tetap kulanjutkan membaca. It is so great novel.
Akhirnya, democrazy menjadi nyata dan buku Mas Pram berjubelan di toko buku. Hamdillah ada teman se-kost yang memborong. Bisa baca gratis nih. Semuanya deh. Gila, ini pengarang cerdas dalam membaca masyarakat dan mengkoleksi data. Meramu fakta dan fiksi menjadi sebuah jalinan cerita yang mengasyikkan. Sarat pesan tetapi tidak menggurui [tidak seperti Ria Jenaka-nya TVRI:-P]. Membawa pembaca ke alam pikiran penulisnya. Membawa pembaca merasakan gairah semangat revolusioner-nya. Membawa pembaca membenarkan ideologi-nya. Jika tidak cerdas memilah dan memilih dengan bekal (lagi…)